Setelah mempelajari lokasi disekitarnya, Lynx berniat memperkuat pagar yang sudah ada dengan kayu runcing dan jembatan untuk akses keluar masuk melalui rawa-rawa.

"Kita gunakan rawa di dekat sini," jawab Lynx sambil menunjuk peta kasar di atas kulit binatang yang sudah dibuatnya. "Potong kayu, buat pagar runcing, dan pasang di tepian rawa. Tambahkan jembatan dan jebakan di jalur utama. Rawa itu bisa jadi penghalang alami."

Kerja keras pun dimulai. Lynx memimpin beberapa pria Sinto ke hutan untuk menebang kayu. Ia menggunakan parangnya, hasil dari bajah besi yang ia tempa di gua. Parang itu begitu tajam hingga pohon-pohon kecil tumbang hanya dalam sekali tebas. Saat Lynx mengayunkannya dengan kekuatan luar biasa, suara kayu yang terbelah memenuhi udara, dan penduduk yang ikut bekerja hanya bisa melongo.

"Kau membuat senjata ini sendiri, Lynx?" tanya seorang pria, suaranya kagum.

"Ya, senjata ini namanya parang" jawab Lynx singkat sambil mengangkat batang pohon besar seorang diri. "Dari bajah besi yang kutemukan di tambang. Kita bisa membuat berbagai macam senjata dengan bajah besi iti"

Semua orang tampak terkesan, dan mereka bekerja lebih semangat, terinspirasi oleh kekuatan dan kemampuan Lynx. Mereka memotong kayu menjadi balok-balok besar, sementara Lynx memimpin pengangkutannya ke rawa terdekat.

Beberapa orang mulai mengikat kayu menjadi pagar runcing, menggunakan tali dari rotan. Lynx memastikan ujung-ujungnya diruncingkan dengan sempurna. "Ini harus cukup tajam untuk menembus kulit," katanya, memeriksa salah satu pagar yang sudah jadi. Sesekali Lynx membantu menajamkan dengan parangnya.

Di dekat rawa, tim lain menggali lubang jebakan dengan kedalaman cukup untuk membuat musuh terperosok. "Tambahkan kayu runcing di dasarnya," perintah Lynx. "Kita tutupi dengan ranting dan dedaunan."

"Lubang seperti ini akan memakan banyak waktu," keluh Sherly yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Kenapa kita tidak fokus saja membuat pagar yang lebih tinggi?"

"Musuh akan selalu mencari jalan lain," balas Lynx sambil menatap tajam ke arahnya. "Jebakan ini penting."

Sherly mendengus, tapi memilih diam.

Di sisi lain perkampungan, Leena bekerja bersama Nenek Drona di sebuah tenda kecil. Wadah-wadah bambu berisi berbagai tanaman dan cairan diletakkan di hadapan mereka. Leena dengan cekatan mencampur racikan racun, menghasilkan cairan hijau pekat dengan aroma tajam.

"Kau sudah sangat terampil," puji Nenek Drona sambil mengaduk racikan dengan tongkat kayu. "Kau benar-benar cepat belajar."

"Terima kasih, Nek. Ini semua berkat Lynx," jawab Leena sambil tersenyum kecil. "Dia mempelajari banyak hal untuk bertahan hidup, dan aku hanya mengikutinya."

Nenek Drona mengangguk puas. "Kau punya bakat, tapi masih ada yang harus kau pelajari. Ini," katanya sambil menyerahkan seikat akar kering. "Gunakan untuk membuat racun lebih tahan lama."

Leena mencatatnya di selembar kulit binatang. Ia sadar bahwa Nenek Drona memiliki pengetahuan yang jauh lebih mendalam tentang tanaman. Ia mempelajari setiap langkah dengan cermat, berharap bisa menggunakan ilmunya di masa depan.

"Aku harus belajar lebih banyak," gumam Leena sambil terus bekerja.

Di sisi lain desa, Sherly hanya berdiri dengan tangan terlipat, sesekali memerintah penduduk untuk membawa bahan atau mengeluh tentang panasnya cuaca. "Kenapa semuanya lambat sekali? Kita bisa diserang kapan saja!" serunya dengan nada melengking, tapi tidak ada yang memperhatikan.

"Kita oleskan racun ini ke ujung pagar dan jebakan," kata Leena sambil membawa wadah besar cairan ke arah tumpukan pagar kayu. Penduduk lain membantunya, memastikan setiap ujung pagar diberi lapisan racun yang cukup.

Ketika sore tiba, hasil kerja keras mereka mulai terlihat. Pagar runcing dari kayu dipasang di tepian rawa, membuat jalur itu sulit dilalui. Untuk ke kampung mereka juga harus melewati jembatan yang sudah disiapkan atau mereka harus memutar jauh. Leena dan Nenek Drona telah mengoleskan racun ke ujung-ujung pagar, siap melukai siapapun yang menyentuhnya. Jebakan tambahan, seperti lubang-lubang yang disamarkan dengan dedaunan dan batu besar yang diikat di atas pohon, juga sudah dipasang di jalur utama.

Lynx berdiri di atas balok kayu, mengawasi desa. Napasnya berat, tubuhnya basah oleh peluh, tapi ia tersenyum kecil. "Ini cukup untuk memberi kita waktu," katanya pada Leena yang berdiri di sisinya, membawa sisa racun di tangannya.

Leena mengangguk, wajahnya penuh keyakinan. "Semoga kita bisa menghadapi apapun yang datang."

Sherly, yang mendengar dari kejauhan, mendengus sambil memalingkan wajah. Matanya penuh rasa iri saat melihat kedekatan Lynx dan Leena, tapi ia memilih diam dan melangkah menjauh, menuju tenda.

Lynx kemudian memastikan semua orang tahu tugas mereka. Pagar pertahanan sudah selesai dibangun, jebakan telah dipasang di sepanjang jalur masuk ke kampung, dan penduduk selalu siap sedia meski dengan senjata seadanya. Lynx juga memastikan orang-orang tersebut tahu apa yang harus dilakukan untuk menjalankan jebakan tersebut dan melatih mereka memahami aba-abanya.

"Kita harus siap," kata Lynx dengan suara tegas. "Jika Monrest menyerang, jebakan adalah keuntungan terbesar kita. Jangan terburu-buru menyerang. Biarkan mereka masuk sejauh mungkin sebelum kita melawan."

Maret, sang kepala suku, berdiri di samping Lynx. "Penduduk kampung sudah siap. Tapi, Lynx, kau yakin mereka akan datang?"

Lynx mengangguk. "Aku yakin. Jika mereka tahu Kargo gagal, mereka pasti akan mengirim lebih banyak orang untuk menyelidiki."

Sherly, yang sedang menajamkan ujung tombaknya, mendesah. "Bagus. Kita hanya harus memastikan mereka tidak pulang untuk melaporkan apa pun."

Leena mendekati Lynx, wajahnya terlihat tegang. "Kau yakin kita bisa melawan mereka, Lynx?"

Lynx menatap Leena dengan serius. "Aku tidak yakin. Tapi aku tahu kita harus mencoba. Jika kita tidak bertahan, tidak ada tempat lain bagi kita untuk pergi."

Sementara itu, di sisi lain pulau, pasukan Monrest yang dipimpin oleh Revan, Nesa, dan Jor, melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati. Jejak-jejak pertempuran mulai terlihat di sekitar mereka.

"Mereka pasti bertarung di sini," kata Jor sambil menunjuk bekas pohon yang tumbang dengan bekas luka akibat senjata.

Revan mendekati sebuah area dengan tanah yang berlumuran darah kering. "Ini tidak biasa. Ini bukan hanya pertarungan kecil."

Nesa berjalan lebih jauh, lalu berhenti tiba-tiba. "Lihat itu," katanya dengan suara rendah.

Di depan mereka, tergeletak tubuh-tubuh anggota Suku Monrest yang sudah membusuk. Beberapa dari mereka masih memegang senjata mereka, sementara yang lain terlihat tercabik-cabik seperti ditusuk berkali-kali menggunakan tombak.

Tiga sosok itu lalu berdiri mengitari dua jasad yang tergeletak di tanah. Cahaya remang-remang dari celah dedaunan menyoroti wajah mereka—Revan, dengan tatapan dingin dan senyum mengejek. Nesa, yang selalu memancarkan aura kekejaman. dan Jor, seorang pria berotot besar dengan tawa yang selalu terdengar mengancam.

"Ini dia," gumam Revan sambil memeriksa tubuh Kargo yang sudah tak bernyawa. "Jadi, bocah tolol ini benar-benar mati."

"Lihat lukanya." Nesa berjongkok di dekat tubuh makhluk mutasi peliharaan Kargo, menunjuk tusukan yang tepat mengenai leher belakang. "Dan ini," lanjutnya sambil menunjuk bekas luka serupa di tubuh Kargo, "senjata yang sama. Orang yang sama."

"Sungguh berani terhadap suku Monrest," tambah Revan, meneliti luka itu dengan senyum dingin. "Siapapun yang melakukannya, dia cukup tangguh."

Jor terkekeh. Suaranya berat dan menggelegar seperti suara gemuruh. "Tangguh? Kau serius? Ini Kargo yang kita bicarakan. Dia bahkan tidak bisa melawan tiga anak kecil tanpa kehilangan senjatanya."

Nesa tertawa keras. "Kargo... si idiot yang selalu membual tentang kekuatannya. Dan lihat dia sekarang. Mati seperti anjing."

Revan menyeringai lebar. "Kau tahu apa yang lebih menyedihkan? Makhluk peliharaannya bahkan tidak berguna untuk melindunginya. Monster itu pasti sama bodohnya dengan tuannya."

Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, seolah kematian Kargo hanyalah bahan lelucon. Revan menendang tubuh Kargo, memutar tubuhnya hingga menghadap ke atas. Matanya menatap kosong, darah mengering di sekitar lukanya.

"Aku yakin siapa pun yang membunuh Kargo berpikir ini adalah pencapaian besar," ejek Revan sambil melangkah menjauh. "Mereka pasti merasa seperti pahlawan sekarang."

"Pahlawan atau tidak, itu tidak penting," kata Jor, suaranya penuh percaya diri. "Siapa pun mereka, mereka hanya kebetulan bertemu si pecundang di antara kita."

Nesa berdiri, membersihkan tangannya seolah menghapus kotoran tak terlihat. "Kalau begitu, mari kita beri mereka kejutan. Mereka pikir mereka bisa membunuh Kargo dan lolos begitu saja? Mereka belum bertemu kita."

Revan mengeluarkan peluit kecil dari sakunya. Alat itu tampak sederhana, tapi ketika ia meniupnya, suara bernada tinggi yang hampir tidak terdengar oleh telinga manusia menggema di udara. Hening sejenak melingkupi mereka, sebelum gemerisik terdengar dari hutan di sekeliling.

Dari balik pepohonan, makhluk-makhluk mutasi peliharaan mereka muncul satu per satu. Tubuh mereka besar, dengan otot yang mencuat di bawah kulit bersisik. Mata mereka bersinar merah menyala, dan taring mereka meneteskan cairan kental berwarna kehijauan.

"Ah, mereka datang," ujar Nesa dengan nada puas. Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala salah satu monster yang mendekat. Makhluk itu menggeram rendah, menunjukkan deretan gigi tajam.

"Lihat mereka," kata Jor, menepuk bahu salah satu monster dengan tangannya yang besar. "Mereka ini bukan seperti peliharaan Kargo yang lemah. Ini adalah makhluk sejati. Mereka lapar."

Revan menatap makhluk-makhluk itu dengan tatapan bangga. "Kita akan pergi ke kampung itu. Tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mereka melawan kita. Dan kalau si pembunuh Kargo itu ada di sana..." Ia berhenti sejenak, senyumnya melebar. "Kita akan membuatnya menyesal."

Nesa tertawa kecil, membelai kepala monster di dekatnya. "Mungkin kita bisa menangkapnya hidup-hidup. Aku ingin tahu apakah dia akan terlihat setangguh ini setelah monster-monster kita mencabik-cabiknya."

"Tak usah buru-buru," kata Jor. "Biar mereka tahu siapa kita. Kita buat pertunjukan."

"Pertunjukan, ya?" Revan mengulangi sambil tersenyum. "Bagus. Biar mereka melihat kekuatan kita sebelum mereka mati."

Dengan tawa yang mengisi hutan, mereka bergerak maju, diikuti oleh kawanan monster yang siap menyebarkan teror. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak berat di tanah, dan bau busuk dari makhluk-makhluk itu menyebar seperti peringatan yang menakutkan.
